
Hidup tanpa gula itu menyiksa! Aku jadi uring-uringan, mudah lelah, bahkan merasakan craving gula yang lebih menggebu-gebu daripada biasanya. Salah besar jika kamu berpikir, ‘Ah cuma gula pasir dan kandungan manis di minuman, kok.’ Justru aku tidak boleh mengonsumsi gula dalam bentuk apa pun, bahkan nasi putih dan buah-buahan sekali pun.
Semua jenis gula harus kubatasi agar tidak masuk ke tubuh sama sekali. Itulah salah satu aturan diet keto yang aku jalani pada April 2026. Bukan hanya gula, aku juga tidak boleh makan makanan bertepung. Padahal makanan kesukaanku (kadang jadi makanan utama, sih) mengandung tepung, katakanlah roti dan pasta.
Sudah pasti, tantangan cut sugar and flour 100% tidak berjalan mulus karena aku mulai merasakan efek sampingnya di hari ketiga. Ya, seperti yang kalian lihat di paragraf sebelumnya, emosiku tidak stabil, belum lagi aku merasa loyo dan kurang bersemangat ketika bekerja. Untungnya aku freelancer, selalu kerja di rumah, jadi aku tidak perlu khawatir bakal kena peer pressure buat mesan kopi bareng teman sekantor.
Kok Harus Cut Sugar, Sih?

Orang yang cut sugar pasti punya satu tujuan: ingin menurunkan berat badan. April 2026, timbanganku menunjukkan angka 72 kg, padahal tinggi badanku tidak melebihi 150 cm. Dalam skala Body Mass Index (BMI), aku sudah mencapai obesitas dengan skor 32,4. Ketika bercermin, aku merasa kurang percaya diri melihat lemak yang menumpuk di beberapa bagian tubuh.
Aku juga sering merasa cepat lelah dan ngos-ngosan ketika brisk walking sebagai bagian dari workout-ku. ‘Aneh, padahal aku biasa brisk walking, kok. Bahkan di winter trip bulan Januari kemarin, aku kuat jalan kaki 10.000 langkah,’ ujarku dalam hati.
Menyadari dua hal tersebut, aku memutuskan untuk mulai diet. Aku berkenalan dengan seorang teman yang berhasil menjalani diet keto selama bertahun-tahun dan menurunkan berat badannya. Tidak hanya itu, temanku ini juga berhasil meminimalkan peradangan berkat kombinasi diet keto dan olahraga yang dijalaninya.
Dia membagikan tipsnya dalam bentuk e-course praktikal. Aku merogoh dompetku untuk mengikuti kursusnya. Aku juga bergabung ke grup yang berisi accountability partner bersama 4 peserta e-course lainnya.
“Tujuannya biar kita bisa mengingatkan satu sama lain biar proses dietnya makin mudah dan jadi habit di hidup kita,” ujar temanku sebagai sang coach di grup itu dengan semangat. Pasalnya, kami akan menjalani lifestyle baru ini selama 28 hari ke depan.
Semangat 45 Menurunkan Berat Badan
Hari pertama diet keto pun dimulai. Tentu saja aku bersemangat mengikuti pantangan dalam diet keto. Harus intermittent fasting dan mulai makan jam 12 siang. Gak boleh makan nasi, makanan berbahan tepung, dan mengandung gula. Sebagai gantinya, aku harus makan 4 butir telur dalam satu hari. Harus minum air putih dalam jumlah yang cukup. Mulai hari dengan minum larutan cuka apel dan sejumput garam himalaya. Dan masih banyak lagi…
Padahal sehari sebelumnya aku menyantap roti khas Georgia. Seminggu sebelumnya pula aku memesan minuman manis, hanya saja gulanya emang dikurangi alias less sugar. ‘Ah, aku pasti bisa menjalani diet ini tanpa drama,’ ujarku dengan sombongnya.
Hari kedua, semangat menyingkirkan gula dari tubuh pun masih ada. Malam kedua itu aku dan teman-teman seperjuangan ikut online meeting buat membangun growth mindset dan journaling.
Karena aku adalah Perempuan Bicara Rasa, kutuangkan semua harapanku bisa menurunkan berat badan dan mulai hidup sehat di sesi tersebut. Setiap kesulitan yang selama ini menghambatku dalam menurunkan berat badan, aku tuliskan semua juga di sana.
Namun, namanya progres itu gak selamanya berjalan mulus dan bikin bahagia, kan?
Malah Makin Pengen Makan Gula
Perjuangan terasa berat di hari ketiga. Ya, seperti yang aku bilang di awal: ‘Hidup tanpa gula itu menyiksa!’.
Verywell Mind menyatakan bahwa total cut sugar menyebabkan orang mudah tersinggung, mood swings, bahkan brain fog (sulit fokus pada kerjaan). Menariknya, cut sugar juga membuat orang malah makin craving gula dan makanan berkarbohidrat lainnya. “Wah, persis banget seperti yang aku rasakan,” ujarku dalam hati.
Selama berhari-hari itu, energiku makin drop dan perasaanku bertambah negatif. Di grup accountability partner, aku merongrong sang coach dengan berbagai pertanyaannya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.
Mengejutkannya, beberapa jenis buah-buahan tidak boleh dimakan pula karena mengandung fruktosa. Hanya alpukat yang boleh dimakan karena mengandung lemak. Bahkan susu sapi yang fresh pun tidak boleh dikonsumsi selama diet keto.
‘Terus aku harus makan apa?’ Aku meraung dalam hatiku.
Di hari keempat, aku memutuskan untuk work from café (WFC). Aku hanya bisa memesan kopi americano, tapi bisa menambahkan 1-2 tetes stevia agar kopinya enjoyable. Sayang sekali, bukannya malah bekerja, aku terus mengalihkan pandanganku ke deretan roti dan pastry lezat yang ada di etalase.
Perjuangan sakau gula ini berlangsung hingga hari ketujuh. Suatu malam, aku bermimpi makan enak, bahkan makanan itu bertepung sekali pun. Aku gak menyangka kondisi ini bisa memengaruhi alam bawah sadar sampai mimpi itu muncul di kepalaku.
Berhasil, Sih. Tapi…

Hari kedelapan, kondisi sakau gulaku sudah hilang. Bebanku berkurang satu dan aku bisa menjalani diet keto dengan santai bersama grup accountability partnerku. Harusnya aku bahagia, bukan?
Tidak juga. Meski mendapatkan support dari teman seperjuangan, ada saja momen yang membuatku exhausted. Tiap kali mau nyemil, aku harus cek kandungan gula dan karbohidrat di kemasan makanannya. Kalau kandungan karbohidrat dan gulanya lebih dari 1 gram, aku taruh makanan itu kembali ke raknya. Intinya, aku harus cari makanan yang gak hanya ditulis sugar-free, tapi juga kandungan gulanya mencapai nihil.
Adikku juga mendukungku dalam diet ini, tapi dia juga yang kasih cobaan ke aku. Tiap kali adikku mau order kopi susu dan menawarkannya padaku, aku harus menolaknya. Saat kami makan bersama, aku melihat dia menyantapnya dengan ekspresi nikmat. Kan aku jadi iri dan ingin ikut-ikutan, ya. Soalnya, aku hanya bisa makan telur dan alpukat, sih. Meskipun bisa makan daging jenis apa pun, tetap saja aku merindukan rasa manis di lidahku.
Gelora semangatku perlahan menghilang ketika aku sedang scrolling Threads dan menemukan utas yang bikin ‘gong banget, sih’. Utas tersebut berisi menu minuman di suatu kedai kopi franchise nasional lengkap dengan grade kandungan gula berdasarkan standar Kemenkes Indonesia. Di utas itu, ada yang membalas, “Boleh aja sih konsumsi gula asal kurang dari 50 gram”.
‘Hah?’ batinku shock. Buru-buru aku buka browser-ku buat konfirmasi batasan gula dari Kemenkes. Di situ tertulis, “…batas konsumsi gula per orang per hari yakni 50 gram atau 4 sendok makan gula…”.
Sejak mengetahui hal tersebut, aku membatin, ‘Diet keto ini sepertinya gak cocok untukku, deh.’ Aku mulai meragukan setiap aturan dalam diet keto yang kuikuti, termasuk pula larangan mengonsumsi buah berfruktosa dan susu sapi (yang selama ini aku ganti dengan mengonsumsi susu almond).
Ingin sekali protes dan berteriak ke coach aku tersebut. Sayangnya, challenge diet keto ini sudah setengah jalan. Teman-teman accountability partner-ku pun lagi semangat-semangatnya. Ya sudah, aku simpan aturan ini dalam hati saja sampai challenge ini berakhir biar animonya tetap terjaga.
Guilty Pleasure in Matcha and Pastry
Sampailah di hari terakhir, hari ke-28 bangun habit diet keto, aku tetap jadi ‘anak baik’ dan menjalani aturan yang diberikan. Bahkan setelah challenge-nya selesai, aku tetap menjalani pola hidup baruku.
Sayang, semua gaya hidup sehatku runtuh perlahan ketika aku mengunjungi salon yang menyediakan minuman matcha tepat 8 hari setelah challenge tersebut berakhir.
Aku ingin mencoba cold whisk matcha, tapi susu yang digunakan adalah susu sapi. Aku menggigit bibirku, galau, dan berpikir, ‘Haruskah aku memesannya?’ Sempat-sempatnya pula aku bertanya ke AI Overview di Google lantaran kangen matcha, tapi gak mau gendut lagi.
‘Bodo amatlah, aku ikut aturan Kemenkes saja!’ ujarku dalam hati dan akhirnya memesan cold whisk matcha sebagai teman treatment-ku. Untungnya, cold whisk matcha itu disajikan hanya dengan susu sapi, jadi aku tinggal tetesin stevia ke dalamnya.

Ada pula momen lainnya yang menimbulkan guilty pleasure ini: ketika aku memutuskan WFC sekitar dua minggu kemudian. Aku bahkan memesan pastry dan segelas matchapresso susu almond berukuran besar untuk menemaniku nugas.
Cheating is heaven. Sayang, konsekuensinya adalah aku harus sering memastikan kepada barista soal kandungan gula di dalamnya. Batinku jadi gak enak. Selain karena barista sedang banyak kerjaan, aku juga bisa bikin antrean jadi mengular.
Berdamai dengan Gula
“Aku gak bisa toleransi cheating gula ini, nanti kebablasan.” Begitulah renunganku sepulang dari WFC. Itulah yang memotivasiku untuk berkonsultasi dengan dokter gizi. Kepada dokter giziku, aku bercerita mengenai diet keto yang sedang aku jalani.
“Kamu tahu kan diet keto itu apa?” tanya sang dokter. Aku hanya mengangguk dan menjelaskan soal diet keto sesuai pemahamanku.
“Kamu harus stop diet keto, jangan dilanjutin buat jangka panjang. Risikonya bisa kurang gizi,” jelasnya. Kemudian, aku diresepkan menu diet baru dan suplemen, bersamaan dengan daftar makanan yang bisa dikonsumsi selama diet. Kulihat di daftar makanan yang harus dikonsumsi, ternyata buah-buahan juga termasuk, bahkan yang mengandung fruktosa sekalipun.
“Akhirnya bisa makan buah lagi tanpa merasa bersalah,” batinku lega setelah mendengar Berita Baik dari dokter gizi.
Tidak ada larangan eksplisit soal cheating dan konsumsi gula dari dokterku. Namun, aku memutuskan untuk tidak terlalu terbebani dengan diet kali ini. Aku putuskan sekali dalam seminggu aku bisa cheating dan menikmati minuman manis dan makanan favoritku. Risikonya biar aku yang tanggung sendiri.
Bulan berikutnya, di kunjungan kedua, dokter giziku menyarankan untuk minum larutan Yakult dengan air dingin, kemudian dicampur dengan whey protein untuk pembentukan massa ototku.
“Tapi Yakult mengandung gula. Itu gapapa, dok?” ujarku dengan ragu, masih terbawa mindset diet keto itu.
“Udah gapapalah,” balas dokterku sambil melambaikan tangan yang menyimbolkan cincai. “Kan bisa dilarutkan dengan air.”

Begitulah momen yang membuatku kembali berdamai dengan gula dan makanan favoritku lagi: roti dan pasta. Aku kembali makan pasta dan mi, tapi hanya pada hari Minggu. Kemudian, aku kembali menjalani diet sesuai anjuran dokter pada sisa minggu lainnya.
Minuman air mineral + Yakult + whey protein aku jadikan reward supaya aku termotivasi berolahraga: tidak hanya jalan kaki, tapi juga dengan dumbbell dan wall push-up.
Kini, berat badanku sudah mencapai 61 kg dan aku akan terus berusaha menurunkannya hingga mencapai BMI yang ideal. Meski perjalanan menurunkan angka timbangan masih panjang, aku gak lagi tersiksa selama menjalani dietku. Semangat!